Sabtu, 05 November 2011

Ngomong Dulu Atau Mikir Dulu.??

Ndak ada kerjaan, saya melihat-lihat kembali akun Friendster yang lama ndak pernah dibuka. Membaca ulang testimoni sambil memanjakan memori masa lalu *halah* Saya senyum-senyum sendiri membaca testimoni dari senior dan teman-teman masa kuliah dulu.
Sebagian besar senior mengingat saya sebagai junior riwil yang selalu membantah omongan senior. Tiap kali ada hukuman fisik seperti push up, lompat kodok, atau hukuman konyol yang ndak masuk akal saya bakal tunjuk tangan dan berdiri menyuarakan protes. Protes karena hukuman yang ndak berdasar atau hanya untuk kesalahan konyol yang dibuat-buat. Hanya saja di testimonial jejaring sosial itu bahasanya mereka perhalus  menjadi junior yang berani menyatakan pendapat.
Bangga? Ndak juga apalagi kalau baca testimonial dari teman-teman seangkatan. Oke, teman-teman seangkatan saya kaget dengan anak kampung masuk kota yang selalu sok berani angkat tangan dan protes untuk hukuman yang dijatuhkan senior yang lebih mirip monster pada masa ospek. Dan ... hampir semua  teman-teman seangkatan saya menyelipkan pesan untuk berfikir dahulu sebelum bicara.
Kenapa begitu? Kilas balik ke masa ospek dengan aturan : (satu) Senior selalu benar (dua) Jika senior salah, lihat kembali aturan nomor satu. Jadi apapun keputusan senior adalah kebenaran mutlak. Dan protes-protes saya itu akhirnya berujung pada hukuman fisik yang ditambah kuantitas dan kualitasnya. Karena ada prinsip bodoh Satu sakit, Semuanya sakit jadi kalau satu dihukum semua harus ikut merasakan hukuman. Jadilah beramai-ramai kami merasakan sesi latih dan bentuk otot yang lebih berat berkat suara sumbang saya.
Tiap sore biasanya mahasiswa angkatan baru akan dikumpulkan dalam satu ruangan untuk didoktrin diberikan pengarahan. Semuanya harus hadir, full team. Mahasiswa angkatan saya waktu itu berjumlah 121 orang dan 14 orang diantaranya perempuan yang didudukkan di barisan paling depan. Ruangan kecil berukuran sekitar 7 x 8 meteran itu penuh sesak. Walaupun menggunakan pendingin udara tapi malah terasa sumpek karena para senior sibuk melepas asap rokok. Lagi-lagi suara sumbang saya protes, "Kak, kalau ruangan AC kan ndak boleh merokok." Dan reaksi para senior itu adalah ... mematikan pendingin udara bukan mematikan rokok seperti yang saya harapkan. Bayangpun! Betapa sesaknya ruangan itu dan sepanjang sesi doktrin pengarahan saya dilirik sinis oleh teman-teman seangkatan. Sampai sekarang kalau reuni, mereka bakal membicarakan kembali kejadian itu terutama saat ada yang menyalakan rokok. Ah, nasib.
Membaca artikel perempuan yang mengaku sering terbakar amarahnya itu disini membuat saya menilai kembali diri saya. Tahun-tahun setelah masa ospek itu, saya berubah. Saya tidak lagi bersuara sumbang melawan hal menurut saya tidak benar dan tidak adil. Suara yang keluar cenderung dimanis-maniskan atau saya akan diam dan memakan sendiri protes-protes itu dalam hati. Saya takut menyuarakan kembali dengan jujur isi kepala saya. Takut ada orang lain yang terluka. Takut saya dijauhi karena suara sumbang saya.
Jadi bagaimana? Lebih baik ngomong, mikirnya belakangan? Atau kebanyakan mikir, malah ndak jadi ngomong?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar