Ndak ada kerjaan, saya melihat-lihat
kembali akun Friendster yang lama ndak pernah dibuka. Membaca ulang
testimoni sambil memanjakan memori masa lalu *halah* Saya senyum-senyum sendiri membaca testimoni dari senior dan teman-teman masa kuliah dulu.
Sebagian besar senior mengingat saya
sebagai junior riwil yang selalu membantah omongan senior. Tiap kali ada
hukuman fisik seperti push up, lompat kodok, atau hukuman
konyol yang ndak masuk akal saya bakal tunjuk tangan dan berdiri
menyuarakan protes. Protes karena hukuman yang ndak berdasar atau hanya
untuk kesalahan konyol yang dibuat-buat. Hanya saja di testimonial
jejaring sosial itu bahasanya mereka perhalus menjadi junior yang
berani menyatakan pendapat.
Bangga? Ndak juga apalagi kalau baca
testimonial dari teman-teman seangkatan. Oke, teman-teman seangkatan
saya kaget dengan anak kampung masuk kota yang selalu sok berani angkat
tangan dan protes untuk hukuman yang dijatuhkan senior yang lebih mirip
monster pada masa ospek. Dan ... hampir semua teman-teman seangkatan
saya menyelipkan pesan untuk berfikir dahulu sebelum bicara.
Kenapa begitu? Kilas balik ke masa ospek
dengan aturan : (satu) Senior selalu benar (dua) Jika senior salah,
lihat kembali aturan nomor satu. Jadi apapun keputusan senior adalah
kebenaran mutlak. Dan protes-protes saya itu akhirnya berujung pada
hukuman fisik yang ditambah kuantitas dan kualitasnya. Karena ada
prinsip bodoh Satu sakit, Semuanya sakit jadi kalau satu
dihukum semua harus ikut merasakan hukuman. Jadilah beramai-ramai kami
merasakan sesi latih dan bentuk otot yang lebih berat berkat suara
sumbang saya.
Tiap sore biasanya mahasiswa angkatan baru akan dikumpulkan dalam satu ruangan untuk didoktrin diberikan pengarahan. Semuanya harus hadir, full team.
Mahasiswa angkatan saya waktu itu berjumlah 121 orang dan 14 orang
diantaranya perempuan yang didudukkan di barisan paling depan. Ruangan
kecil berukuran sekitar 7 x 8 meteran itu penuh sesak. Walaupun
menggunakan pendingin udara tapi malah terasa sumpek karena para senior
sibuk melepas asap rokok. Lagi-lagi suara sumbang saya protes, "Kak,
kalau ruangan AC kan ndak boleh merokok." Dan reaksi para senior itu
adalah ... mematikan pendingin udara bukan mematikan rokok seperti yang
saya harapkan. Bayangpun! Betapa sesaknya ruangan itu dan sepanjang sesi
doktrin pengarahan
saya dilirik sinis oleh teman-teman seangkatan. Sampai sekarang kalau
reuni, mereka bakal membicarakan kembali kejadian itu terutama saat ada
yang menyalakan rokok. Ah, nasib.
Membaca artikel perempuan yang mengaku sering terbakar amarahnya itu disini
membuat saya menilai kembali diri saya. Tahun-tahun setelah masa ospek
itu, saya berubah. Saya tidak lagi bersuara sumbang melawan hal menurut
saya tidak benar dan tidak adil. Suara yang keluar cenderung
dimanis-maniskan atau saya akan diam dan memakan sendiri protes-protes
itu dalam hati. Saya takut menyuarakan kembali dengan jujur isi kepala
saya. Takut ada orang lain yang terluka. Takut saya dijauhi karena suara
sumbang saya.
Jadi bagaimana? Lebih baik ngomong, mikirnya belakangan? Atau kebanyakan mikir, malah ndak jadi ngomong?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar