Sabtu, 05 November 2011

Pernikahan adalah

Pernikahan bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk seorang manusia "pecinta damai" seperti saya. Kenapa saya menyebut diri saya sebagai "pecinta damai" , karena saya akan sangat menikmati suasana tanpa masalah, adem ayem, dan baik-baik saja.
Sebisa mungkin, saya akan menghindari hal-hal yang pada ujungnya akan menimbulkan masalah.. (sifat dasar manusia)
Tapi, ketika menjalani pernikahan, perasaan bener-bener di "uyek-uyek"..
Bagaimana tidak...??? saya dan suami harus bisa menerima bukti nyata dari semua "wejangan" orang tua saya.. "Menikah itu...seperti membeli kucing didalam karung.. Tidak terlihat cakar ataupun giginya..hanya terdengar suara MEONGnya saja.." hahaha...

Seterusnya...!!

Gambaran Jomblo

eorang kawan mengajak saya menulis buku mengenai wanita-wanita jomblo dengan segala rasa dan kisahnya. Konon, ia tertarik menyelami perasaan para wanita jomblo, untuk mengerti kekalutan, kemudian menceritakan kesepian dan kesendirian mereka.
Ajakan ini membuat saya merenung kemudian. Ternyata wanita jomblo..memang benar-benar identik dengan kehidupan yang suram, sedih dan menderita. Namun apakah hanya itu saja gambaran yang dimiliki oleh orang-orang di sekitar kami..? Apa hanya seperti itu bagian kehidupan yang menjadi jatah para wanita jomblo, (termasuk saya)..?

Seterusnya...!!

Ngomong Dulu Atau Mikir Dulu.??

Ndak ada kerjaan, saya melihat-lihat kembali akun Friendster yang lama ndak pernah dibuka. Membaca ulang testimoni sambil memanjakan memori masa lalu *halah* Saya senyum-senyum sendiri membaca testimoni dari senior dan teman-teman masa kuliah dulu.
Sebagian besar senior mengingat saya sebagai junior riwil yang selalu membantah omongan senior. Tiap kali ada hukuman fisik seperti push up, lompat kodok, atau hukuman konyol yang ndak masuk akal saya bakal tunjuk tangan dan berdiri menyuarakan protes. Protes karena hukuman yang ndak berdasar atau hanya untuk kesalahan konyol yang dibuat-buat. Hanya saja di testimonial jejaring sosial itu bahasanya mereka perhalus  menjadi junior yang berani menyatakan pendapat.
Bangga? Ndak juga apalagi kalau baca testimonial dari teman-teman seangkatan. Oke, teman-teman seangkatan saya kaget dengan anak kampung masuk kota yang selalu sok berani angkat tangan dan protes untuk hukuman yang dijatuhkan senior yang lebih mirip monster pada masa ospek. Dan ... hampir semua  teman-teman seangkatan saya menyelipkan pesan untuk berfikir dahulu sebelum bicara.
Kenapa begitu? Kilas balik ke masa ospek dengan aturan : (satu) Senior selalu benar (dua) Jika senior salah, lihat kembali aturan nomor satu. Jadi apapun keputusan senior adalah kebenaran mutlak. Dan protes-protes saya itu akhirnya berujung pada hukuman fisik yang ditambah kuantitas dan kualitasnya. Karena ada prinsip bodoh Satu sakit, Semuanya sakit jadi kalau satu dihukum semua harus ikut merasakan hukuman. Jadilah beramai-ramai kami merasakan sesi latih dan bentuk otot yang lebih berat berkat suara sumbang saya.
Tiap sore biasanya mahasiswa angkatan baru akan dikumpulkan dalam satu ruangan untuk didoktrin diberikan pengarahan. Semuanya harus hadir, full team. Mahasiswa angkatan saya waktu itu berjumlah 121 orang dan 14 orang diantaranya perempuan yang didudukkan di barisan paling depan. Ruangan kecil berukuran sekitar 7 x 8 meteran itu penuh sesak. Walaupun menggunakan pendingin udara tapi malah terasa sumpek karena para senior sibuk melepas asap rokok. Lagi-lagi suara sumbang saya protes, "Kak, kalau ruangan AC kan ndak boleh merokok." Dan reaksi para senior itu adalah ... mematikan pendingin udara bukan mematikan rokok seperti yang saya harapkan. Bayangpun! Betapa sesaknya ruangan itu dan sepanjang sesi doktrin pengarahan saya dilirik sinis oleh teman-teman seangkatan. Sampai sekarang kalau reuni, mereka bakal membicarakan kembali kejadian itu terutama saat ada yang menyalakan rokok. Ah, nasib.
Membaca artikel perempuan yang mengaku sering terbakar amarahnya itu disini membuat saya menilai kembali diri saya. Tahun-tahun setelah masa ospek itu, saya berubah. Saya tidak lagi bersuara sumbang melawan hal menurut saya tidak benar dan tidak adil. Suara yang keluar cenderung dimanis-maniskan atau saya akan diam dan memakan sendiri protes-protes itu dalam hati. Saya takut menyuarakan kembali dengan jujur isi kepala saya. Takut ada orang lain yang terluka. Takut saya dijauhi karena suara sumbang saya.
Jadi bagaimana? Lebih baik ngomong, mikirnya belakangan? Atau kebanyakan mikir, malah ndak jadi ngomong?

Seterusnya...!!

Bahasa Arab Vs Bahasa Inggris

Dua hari yang lalu, di kelas saya disebarkan polling kelas dengan berbagai pertanyaan dan hari ini, sekitar satu jam yang lalu, ketika kelas saya sedang pelajaran olah raga, hasil polling pun diumumkan. Beberapa anak langsung mengomentari hasil polling tersebut. Kebetulan pelajaran setelah olah raga adalah bahasa Arab. Ketika Pak Guru bahasa Arab (PgBA) mereka ada di depan kelas, bahkan sebelum Pak Guru membuka pelajaran, secara spontan anak-anak langsung berkomentar tentang hasil dari pertanyaan, "Mata pelajaran apa yang paling sulit dimengerti?"

Pemenang dari pertanyaan tersebut adalah bahasa Arab. Hampir seluruh siswa menjawab bahasa Arab untuk pertanyaan itu.

Murid saya          : "Pak, kenapa sih bahasa Arab susah?"
Murid lain menimpali bersamaan kayak lebah. Saya gak bisa menuliskannya di sini, hehe.
PgBA                     : "Ya, kan bahasa Arab bukan bahasa kita." *gayanya tenang agak cuek
Murid saya          : "Bahasa Inggris juga bukan bahasa kita!"
PgBA                     : "Iya, tapi bahasa Inggris kan ada dimana-mana. Di TV, tulisan-tulisan, banyak juga orang yang ngomong." *sekarang gak cuek lagi

Komentar tentang betapa sulitnya pelajaran bahasa Arab berhenti disitu, meskipun murid saya banyak juga yang masih ingin berkomentar. Pelajaran bahasa Arab pun dimulai tentang Alat Pertahanan.

Saya sendiri ingin sekali bisa bahasa Arab. Walaupun sudah lama saya mengajar di sekolah ini, tapi karena tidak ada kesempatan untuk belajar secara khusus, ya jadinya gak bisa bisa sampe sekarang.

Benar juga apa kata PgBA di atas, bahasa Inggris terasa lebih mudah, karena kita terbiasa dengan berbagai komunikasi menggunakan bahasa Inggris. Lisan maupun tulisan.Bagaimana pun, segala hal yang dibiasakan akan lebih mudah dilakukan. Jadi, mari kita biasakan hal-hal yang baik dan bermanfaat.

Seterusnya...!!

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.
Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *

For vieny, welcome to your husband’s heart.
*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.
Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002

Seterusnya...!!

PDF to Word

untuk mengkonversi file pdf  ke word
download aplikasi cukup disini

Seterusnya...!!

Flock

Flock memberikan webmail terbaru, foto, video dan update dari situs favorit Anda, sehingga Anda hanya tinggal ditempat dan menikmati.

Ini Keren Untuk Berbagi - Flock kait itu semua bersama-sama sehingga Anda dapat drag dan drop apapun ke teman Anda.

Membuat Berita: Publish Diri - Flock membuat blogging dan meng-upload foto ke layanan populer Super mudah. Hanya log in ke layanan favorit Anda dan Anda langsung siap untuk menerbitkan sesuatu dari mana saja di web dengan Flock.

Akses Mudah - Flock otomatis menghubungkan Anda dengan lebih dari 20 layanan online favorit Anda. Hanya log in Flock melakukan sisanya.
download cukup klik disini

Seterusnya...!!